Rabu, 24 Juni 2009

ANALISIS LAKON WAHYU CAKRANINGRAT:ASPEK WISNU PEMBENTUK PANCERING RATU TANAH JAWA

Oleh: Aris Wahyudi

ABSTRACT

Wayang was unites with the Javanese life. It contains complete problem, which in there teaches us of human life. So wayang was not tontonan only, but as tuntunan too.

This article to explain of correlation among symbols in the Lakon Wahyu Cakraningrat and the Javanese’s opinion from the mythology ritual point of view. The Wahyu Cakraningrat as a royal aspect of Hyang Pada Wenang would incarnate to whom destined for the pancering ratu tanah Jawa. This incarnation happens on one mythology – ritual line, epic – ritual – myth. Based on those capacities Abimanyu as the ancestor of the Javanese kings would be understood, so the Javanese kings authority was legitimated and protected.

Pendahuluan

Kenyataan yang ditunjukkan pada beberapa lakon wayang tradisi pedalangan Ngayogyakarta mengidentifikasikan bahwa Abimanyu memiliki peran dan kedudukan yang istimewa karena ia merupakan satu-satunya tokoh yang sejak dalam kandungan telah mendapatkan wahyu karaton. Salah satu wahyu yang menitis ke dalam diri Abimanyu adalah Wahyu Cakraningrat yang disebutkan sebagai wahyu karaton. Lakon ini menceritakan turunnya Wahyu Cakraningrat untuk menentukan wiji ratu dan sekaligus pancering ratu tanah Jawa. Siapa yang mendapatkannya, ia akan disahkan oleh rakyat untuk menduduki tahta kerajaan dan didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa. Tokoh-tokoh yang berusaha untuk mendapatkan wahyu adalah Raden Saroja Kusuma, Raden Samba, dan Raden Abimanyu dengan caranya masing-masing. Pada akhir kisah disebutkan bahwa yang berhak mendapatkan Wahyu Cakraningrat adalah Abimanyu karena ia telah ditakdirkan oleh Hyang Pada Wenang. Dengan demikian Abimanyu didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa.

Fenomena yang ada dalam lakon ini sangat menarik untuk dicermati. Kasus ini dapat dikatakan sebagai sebuah anomali karena dari ketiga tokoh yang berusaha mendapatkan Wahyu Cakraningrat, Abimanyu merupakan satu-satunya tokoh yang bukan putra raja. Ia adalah putra Arjuna dengan Dewi Subadra. Namun dalam kenyataan justru Abimanyu yang berhak atas wahyu karaton sehingga ia didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa. Dengan demikian makna yang terkandung dalam lakon ini tentunya memiliki keterkaian yang sangat erat dengan raja-raja Jawa beserta kekuasaannya sebagai keturunan Abimanyu. Berdasarkan fenomena demikian muncul pertanyaan: Apa makna Wahyu Cakraningrat? dan mengapa Abimanyu yang berhak menerima sehingga ia didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa?

Ahimsa Putra menyatakan bahwa fenomena kesenian dapat dipandang sebagai sebuah teks yang relatif berdiri sendiri.[1] Hal demikian senada dengan pendapat Sudiro Satoto bahwa pakeliran dipandang sebagai sebuah teks, maka salah satu cara pemahamannya dapat dicapai melalui tanda-tanda semiotik mikrostrukturnya, yakni memandang pakeliran sebagai karya estetik yang utuh dan otonom.[2]

Penafsiran simbol-simbol yang ada dalam Lakon Wahyu Cakraningrat ini menggunakan sudut pandang pendekatan mitologi-ritual. Hiltebeitel menyarankan bahwa pendekatan mitologi-ritual dalam studi yang berkenaan dengan Mahabarata akan mampu menyentuh ke akar permasalahan.[3] Lebih lanjut dijelaskan bahwa setiap pembahasan yang berkaitan dengan kisah Mahabarata tidak dapat lepas dari masalah mite dan ritual. Pendekatan ini dimulai dari pemahaman mengenai alam semesta. Berkenaan dengan masalah ini, dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu: (1) pemahaman menurut tradisi Mahãbhãrata sebagai akar cerita dalam pedalangan, dan (2) pemahaman masyarakat Jawa sebagai tempat hidup dan berkembangnya tradisi pedalangan.

Menurut pemahaman yang terdapat dalam Mahabharata bahwa alam semesta terbagi menjadi tiga tataran. Tataran mite adalah golongan dewa, tataran epik adalah maklhuk bumi, dan tataran ritual adalah tataran transisi sebagai media penghubung antara tataran mite dan tataran epik. Pemahaman demikian dalam tradisi Jawa dikenal dengan alam niskala, alam sakala, dan alam sakala-niskala.

Alam sakala merupakan alam material yang dapat dilihat, didengar, fenomenal, dan sebagainya yang dapat ditangkap panca indera. Sakala adalah tataran kehidupan yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi selalu bergerak dalam keterikatan dengan dimensi waktu. Alam niskala tidak dapat ditangkap dengan panca indra, immaterial, “tan kena kinaya ngapa”, alam suwung, sunyata sebagai alam “kalanggengan”, tan kasat mata sebagai alam para dewa. Namun demikian aspek-aspeknya dapat ditangkap dan dirasakan.

Alam sakala-niskala merupakan alam yang mencakup dua-duanya, namun juga sebagai alam antara, alam angan-angan, alam mimpi, alam bayangan. Alam antara sebagai media komunikasi antara alam niskala dengan alam sakala dapat dicapai dengan suatu proses tertentu yang lazimnya melalui sebuah ritual. Orang yang ingin berkomunikasi dengan dewa harus masuk ke alam sakala-niskala. Demikian juga dalam pemujaan, dewa turun ke alam sakala-niskala. Dipahami pula bahwa aktivitas yang terjadi dalam tataran epik tidak dapat berdiri sendiri, melainkan selalu ada campur tangan dari tataran mite. Pemahaman demikianlah yang digunakan sebagai dasar pijakan dalam melacak kapasitas masing-masing tokoh dalam Lakon Wahyu Cakraningrat, sehingga peran dan kedudukannya dalam lakon ini dapat dimaklumkan.

Sistem Pewahyuan Wahyu Cakraningrat

Berdasarkan sudut pandang mitologi ritual dipahami bahwa semua aktivitas tokoh-tokoh yang terlibat dalam Lakon Wahyu Cakraningrat selalu melibatkan campur tangan dari tokoh dalam tataran mite, baik dewa ataupun gandarwa.[4] Batari Durga, Batara Srigati, Batara Kamajaya, dan Wahyu Cakraningrat dikelompokkan dalam tataran mite. Raden Saroja Kusuma, Raden Samba dan Raden Abimanyu yang berusaha mendapatkan wahyu dikelompokkan dalam tataran epik. Proses pewahyuan menunjukkan terjadinya komunikasi antara tataran mite dan tataran epik. Dengan demikian cara yang ditempuh Raden Saroja Kusuma, Raden Samba, dan Raden Abimanyu dalam usahanya mendapatkan Wahyu Cakraningrat dapat dikategorikan sebagai tataran ritual.

Tataran ritual dalam tradisi Hindu dikelompokkan menjadi dua, yaitu tataran Wedik dan tataran Tantrik.[5] Pada dasarnya kedua tataran ritual ini sama-sama mengikuti faham Weda, namun dalam praktek ritualnya memiliki beberapa perbedaan pokok. Penganut Wedik berorientasi pada pemujaan dewa Brahma karena sebagai sang pencipta alam semesta, ia menjalankan tugas berdasarkan mandat dari dewa Indra.[6] Indra sebagai penguasa dewa tertinggi dalam menjalankan tugasnya dilaksanakan oleh tiga dewa, yaitu Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa. Dalam hal penciptaan makhluk hidup, Brahma diidentikkan dengan Dewa Kama, sehingga Trimurti Brahma, Wisnu Siwa sering disebut juga Kama, Wisnu, Siwa.[7] Bagian penting tata cara ritual dalam tataran Wedik disebut pravretti yang meliputi sesaji, mantra dan laku.[8] Sesaji adalah barang yang digunakan untuk persembahan kepada dewa. Mantra adalah syair pemujaan yang dilafalkan dalam pelaksanaan ritual. Laku merupakan tata cara dalam melaksanakan ritual. Orang Wedik dalam kehidupannya diwajibkan memenuhi tiga ketentuan yang disebut triwarga yang terdiri dari dharma, artha, dan kama agar mencapai moksa,[9] atau disebut caturpurusãrtha.[10]

Dharma merupakan perkembangan psiko-spiritual yang mendorong timbulnya perasaan ikhlas dalam melaksanakan segala perbuatan yang baik. Artha adalah segala sesuatu yang dapat melenyapkan rasa sakit, baik jasmani maupun rohani yang meliputi kekayaan, kedudukan, derajat, ilmu pengetahuan dan sejenisnya. Namun demikian artha yang diperolehnya tidak boleh membuat sakit orang lain. Kama adalah segala sesuatu yang dapat mendatangkan kesenangan dan kenikmatan yang bersifat rohani dan jasmani. Bagian yang terpenting dari kama ini adalah keturunan. Penganut tataran Wedik beranggapan bahwa seseorang tidak akan mencapai moksa dan arwahnya tidak akan mencapai nirwana apabila tidak mempunyai keturunan.[11] Artha dan kama harus dijalankan dengan rasa ikhlas tanpa pamrih (dharma) sebagai ibadah agar nantinya dapat mencapai moksa.

Berbeda dengan tataran Wedik, tataran Tantrik meskipun pada dasarnya tataran ini masih menggunakan faham Weda namun dalam pemujaannya borientasi kepada dewa Siwa sehingga disebut Hindu Siwa atau Siwaisme. Tataran Tantrik berkembang setelah tataran Wedik berkembang agak lama, diperkirakan pada zaman Upanisad.[12] Istilah Tantrik berasal dari kata tantra dalam bahasa Sanskrit. Tantra terbentuk dari dua kata. Kata tan artinya membagi atau mengurangi, dan kata tra yang diartikan menyelamatkan.[13] Jadi istilah tantra dapat diambil pengertian suatu ajaran yang tujuannya mengurangi cara penyelamatan diri, atau dalam pengertian bahwa penganut Tantrik dalam menjalankan hidup dan ritualnya tidak perlu terlalu terkekang oleh tata cara yang telah ada, yakni pravretti dalam tataran Wedik (perkembangan selanjutnya muncul pemujaan terhadap kesaktian, magi, dan seks,[14] sehingga muncul pemujaan kepada dewa wanita terutama kepada Durga, istri Siwa). Mereka menjalankan proses ritual sesuai dengan keyakinannya yang disebut dengan istilan nivretti. Caturpusãrtha bagi mereka tidak penting karena yang ditekankan adalah dharma untuk mencapai moksa. Berdasarkan pemahaman mitologi ritual ini, maka langkah yang ditempuh tokoh epik untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi tataran ritual tokoh di atas.

Raden Sarja Kusuma adalah salah satu angota keluarga Korawa yang selalu bermusuhan dengan Pandawa. Pertentangan ini disebutkan sebagai kodrating jagad sampai terjadinya perang besar di Kuruksetra yang disebut Baratayuda Jaya Binangun. Hal demikian tampaknya merupakan kesinambungan dalam transformasinya dari tradisi India bahwa Pandawa merupakan titisan Dewa Indra dan Kurawa sebagai titisan para Asura.[15] Kapasitas Korawa dikaitkan dengan gandarwa yang secara alami sebagai musuh dewa yang diibaratkan seperti halnya ular yang secara alami sebagai musuh burung.[16] Cita-cita Sarja Kusuma untuk menjadi raja dipasrahkan seluruhnya kepada Batari Durga (Gambar 1). Hal tersebut menunjukkan terjadinya komunikasi antara Batari Durga dari tataran mite atau alam niskala dengan Saroja Kusuma dari tataran epik atau alam sakala. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa orientasi pemujaannya kepada Batari Durga yang berarti Saroja Kusuma adalah penganut tataran ritual Tantrik. Raden Saroja Kusuma mendapatkan Wahyu Cakraningrat setelah Wahyu Cakraningrat meninggalkan Samba.[17] Raden Saroja Kusuma ternyata justru bersikap lebih sombong sehingga dipandang lebih tidak layak daripada Raden Samba, dan Wahyu Cakraningrat keluar meninggalkannya.

Gambar 1. (dari kiri ke kanan) Ditya Jaramaya, Raden Saroja Kusuma, dan Batari Durga. Adegan ini menceritakan Raden Saroja Kusuma meminta wahyu kepada Batari Durga. Hal ini menunjukkan bahwa Raden Saroja Kusuma dikategorikan sebagai penganut tataran Tantrik.

Foto Aris Wahyudi, 2001

Raden Samba adalah putra kesayangan Sri Kresna, penjelmaan Wisnu. Proses yang dilalui Raden Samba dalam usahanya mencari wahyu dengan jalan mengasingkan diri di hutan Minangsraya. Namun demikian ditunjukkan bahwa tindakannya tidak dilandasi rasa ikhlas dan kepasrahan kepada Tuhan sehingga

Gambar 2. Wahyu Cakraningrat menitis kepada Raden Samba atas permintaan Batara Srigati, tetapi kemudian Wahyu Cakraningrat meninggalkannya.

Foto Aris Wahyudi, 2001

muncul berbagai perasaan yang menghilangkan kosentrasinya. Berkat bantuan Batara Srigati putra Wisnu, Raden Samba dapat juga memperoleh Wahyu Cakraningrat dengan disertai beberapa pantangan (Gambar 2). Oleh karena Raden Samba melanggar pantangan, maka Wahyu Cakraningrat pun meninggalkannya.

Gambar 3. Wahyu Cakraningrat menitis ke Begawan Madubranta (Abimanyu). Abimanyu sebagai pertapa merupakan identifikasi bahwa Abimanyu adalah penganut tataran Wedik.

Foto Aris Wahyudi, 2001

Abimanyu adalah putra Arjuna, pamadyaning Pandawa. Proses ritual yang dilalui Abimanyu yaitu menjadi pertapa di hutan Ringinputih paparab Begawan Madubranta. Disebutkan pula bahwa Madubranta adalah pertapa yang gentur tapane, serta selalu membacakan mantra doa sehingga suasana tempat pemujaan selalu mendengung seperti suara madubranta (lebah). Laku yang harus dilaksanakan untuk menyambut penitisan sang wahyu adalah tapa mbisu (bertapa dengan cara tidak boleh mengeluarkan suara apapun) di bawah pohon beringin putih. Berdasarkan langkah-langkah yang ditempuh Abimanyu tersebut, maka dapai diidentifikasikan bahwa ia adalah pengikut tataran Wedik.

Penitisan sebagai sistem pewahyuan merupakan salah satu bentuk komunikasi antara tataran mite dan tataran epik yang terjadi dalam tataran ritual. Komunikasi akan terjadi apabila masing-masing tokoh berada dalam satu jalur tataran epik-ritual-mite atau sebaliknya. Proses pewahyuan Wahyu Cakraningrat akan terjadi apabila tokoh epik yang memperebutkannya berada dalam satu jalur tataran epik-ritual-mite dengan Batara Kamajaya sebagai pengatur turunnya wahyu karaton.

Disebutkan bahwa hanya Abimanyu (sebagai penganut tataran Wedik) yang berhak mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Hal ini tentunya ada keterkaitan antara Kamajaya dan Brahma. Dalam tradisi Hindu, Dewa Kama diidentikkan dengan dewa Brahma karena pada dasarnya kedua dewa tersebut merupakan satu prototipe dewa pencipta. Identifikasi tersebut didasarkan pada kapasitas Kama sebagai penguasa sperma dan asmara yang menjadi bagian utama bagi lahirnya makhluk baru di dunia. Kapasitas demikian diakui kebenarannya sehingga Brahma-Wisnu-Syiwa disebut juga Kama-Wisnu-Syiwa.[18] Dengan demikian peranan Batara Kamajaya sebagai pengatur turunnya Wahyu Karaton merupakan bentuk kontinuitas dari identifikasinya dengan Barahma. Penitisan ini terjadi pada saat Abimanyu melaksanakan ritual tapa mbisu (Gambar 3). Keberhasilan Begawan Madubranta ini tidak lepas dari peranan adegan Gara-gara (adegan panakawan) sebagai sistem keterbalikan untuk mencapai kesakralan untuk mengantarkan sang kesatria dalam mencapai keberhasilan (Gambar 4). Kata panakawan yang mengandung arti kawan yang selalu mampu menunjukkan segala norma dan hukum alam untuk menuntun segala perbuatan dan tingkah laku kesatria yang diiringinya (Abimanyu).

Gambar 4. (dari kiri ke kanan) Kayon, Petruk, Gareng, dan Bagong. Keseimbangan panggung tampak berat pada sisi kanan serta posisi kayon di kiri dengan gambar api yang ditampakkan merupakan sistem keterbalikan dalam adegan Gara-gara untuk mencapai derajat kesakralan.

Foto Aris Wahyudi, 2001

Berdasarkan uraian di atas, garis besar siklus penitisan Wahyu Cakraningrat adalah sebagai berikut.

· Wahyu Cakraningrat berasal dari Sang Hyang Pada Wenang.

· Proses turunnya ke dunia diserahkan kepada Batara Kamajaya.

· Penitisannya harus menyatu dengan Wahyu Maningrat.

· Abimanyu sebagai titisan Wahyu Maningrat menjalankan sebuah laku dengan cara nggenturake tapa.

· Wahyu Cakraningrat menitis ke Abimanyu.

Proses pewahyuan yang demikian menunjukkan bahwa sistem pewahyuan dalam Lakon Wahyu Cakraningrat masih mengikuti sistem pewahyuan dalam pemahaman tradisi Hindu seperti dalam diagram sebagai berikut (Gambar 5).

Durga Sang Hyang Pada Wenang









Brahma/Batara Kamajaya


Wahyu Cakraningrat

Alam Niskala

Alam Tantrik Wedik

Sakala-Niskala

datang ke tapa mbisu penitisan

Ngukirpidikan

Alam Sakala

Saroja Kusuma Samba Abimanyu

(pancering ratu tanah Jawa)

Keterangan.

= memiliki aspek rajawi dalam wujud

= turunnya diatur oleh

= memuja

= terjadi komunikasi melalui

Gambar 5. Skema analisis mitologi-ritual penitisan wahyu Cakraningrat.

Wahyu Cakraningrat Sebagai Bentuk “Baru” Cakravartin

Kata cakraningrat berasal dari kata ‘cakra’ yang mendapat imbuhan ‘ning’ dan ‘rat’ yang kesemuanya diartikan yang menyelimuti atau melindungi bumi, dengan kata lain bahwa Wahyu Cakraningrat merupakan tipikal seseorang yang pantas didudukkan sebagai raja. Meskipun kata wahyu menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan Arab, namun konsepnya sudah ada sejak jaman Hindu, yakni anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal demikian ditunjukkan pada sifat reinkarnatif wahyu yang sangat mempengaruhi berdirinya kerajaan atau monarki.[19] Kedudukan raja selalu dikaitkan dengan wahyu sebagai pelegitimasi bagi pemegang kekuasaan tertinggi, yaitu raja. Konsep demikian dalam tradisi Jawa lazim disebut wahyu karaton.

Pengertian Wahyu Cakraningrat ini menunjukkan adanya paralelisme dengan konsep cakravartin dalam tradisi Hindu India Kuna. Cakravartin berasal dari kata cakra dan vartin.[20] Cakra diartikan sebagai roda, bola, benda yang berbentuk lingkaran yang dalam hal ini dimaknakan bumi. Kata vartin berasal dari akar kata vre yang berarti mengelilingi, menyelimuti; dan kata vartin diartikan suatu ketetapan, kekekalan dan kediaman suatu wujud yang bersifat berputar dalam pengertian suatu siklus.[21] Cakra dipahami sebagai titik pusat lingkaran yang kemudian digunakan dalam konsep ritual atau magic-religious.[22] Simbul cakra digunakan sebagai lambang pengayom bagi raja ideal. Cakra diidentikkan dengan rastra yang artinya adalah raja yang menjadi kepala prajurit, menguasai bumi dan berdaulat penuh,[23] sehingga cakravartin digunakan sebagai aspek rajawi, yaitu lambang spiritual yang bersifat universal bagi seorang raja.

Cakravartin sebagai aspek rajawi selalu dikaitkan dengan Senjata cakra Wisnu.[24] Keterkaitan ini ditunjukkan oleh kapasitas Wisnu sebagai konsep raja, seperti ditunjukkan dalam ornamen arca Wisnu yang selalu memakai pakaian lengkap dan mewah sebagai karakter kerajawiannya.[25] Karakter kerajawian Wisnu disebutkan sebagai berikut.

…. Thus it is assumed that Visnu as the prototype of the king is the husband of the eart. Kingship, as we know, is an attribute of the solar god, and so Visnu is the true lord and husband of the earth.[26]

Tampak bahwa identifikasi Wisnu sebagai prototipe raja ditunjukkan oleh dua hal, yaitu pertama: Atribut Wisnu sebagai solar god, yang maksudnya adalah dewa yang berkedudukan di angkasa dan erat kaitannya dengan sistem ketatasuryaan. Dengan demikian Wisnu merupakan dewa angkasa. Pemahaman ini tampaknya juga di transformasikan dalam tradisi wayang Ngayogyakarta menjadi Nguntarasegara untuk menyebutkan kahyangan Wisnu. Kata nguntara berasal dari utara yang berarti tempat yang tinggi atau di atas. Sagara berarti samudra yang mengandung pengertian sangat luas. Jadi kata nguntarasegara dapat diartikan tempat yang tinggi dan sangat luas; dan dapat ditafsirkan sebagai angkasa. Kedua: Wisnu sebagai suami bumi, Wisnu harus menjaga dan memenuhi semua kebutuhan bumi. Dengan demikian berdasarkan kapasitas Wisnu sebagai solar god dan suami bumi, maka Wisnu merupakan penguasa serta pelindung angkasa dan bumi, dalam pengertian bahwa Wisnu adalah penguasa alam semesta. Berbagai tipikal Wisnu tersebut merupakan penjabaran dari konsep cakravartin dalam pengertian yang melindungi, menyelimuti, memelihara, dan menguasai bumi dalam konteks raja. Berdasarkan pemahaman tersebut tampak bahwa cakravartin bukanlah substansi dari Wisnu, melainkan hanya sebagai aspek (tipikal yang menunjukkan ciri-ciri khusus) Wisnu. Dengan demikian cakravartin sebagai aspek Wisnu mengandung pengertian sebagai keadaan spiritual seorang raja ideal yang universal, yang keadaannya kekal dalam suatu siklus kehidupan sebagai pengukuh kekuasaan raja. Aspek ini harus dimiliki oleh seorang raja agar kedudukannya diakui secara ikhlas oleh seliruh rakyat sehingga kewibawaan dan kedudukannya terlindungi.

Berdasarkan kapasitas Wahyu Cakraningrat sebagai pancering ratu tanah Jawa dan penggunaan istilah cakra dalam lakon ini dapat dipahami bahwa konsep dalam lakon ini merupakan transforamasi kreatif masyarakat pedalangan untuk memasukkan konsep cakravartin dalam tradisi Hindu dan Mahãbhãrata ke dalam pandangan masyarakat Jawa. Konsep cakra selalu berkaitan dengan kekuasaan. Hal demikian dipertegas lagi dengan pernyataan “Hambahu dhendha hanyakrawati” (hanyakra berasal dari kata cakra) yang berarti berkuasa dan kaya-raya serta dikelilingi para pengikut setia yang tiada tara, baik secara kuantitas maupun kualitas.[27] Dengan demikian jelas bahwa Wahyu Cakraningrat merupakan kontinuitas dari cakravartin sebagai aspek Wisnu.

Abimanyu Sebagai Konsep Raja Ideal

Kedudukan Abimanyu sebagai penerima Wahyu Cakraningrat dan sekaligus sebagai wiji ratu tanah Jawa ditentukan oleh dua hal pokok. Pertama adalah proses ritual yang dilaluinya. Langkah yang ditempuh Abimanyu untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat dengan jalan mengasingkan diri ke hutan untuk bertapa mendekatkan diri kepada Tuhan agar cita-citanya tercapai. Laku ini dijalani Abimanyu dengan perasaan ikhlas, penuh kepasrahan dan teguh dalam pemujaan yang dalam bahasa Jawa diisitilahkan gentur tapane dan kemudian ia menerima wangsit dari dewa. Wangsit atau petunjuk dewa ini secara implisit merupakan wujud komunikasi antara tataran epik, yaitu Abimanyu dengan tataran mite. Berkat ketekunannya pula ia mampu mengatasi godaan utusan Batari Durga (Malingsukma dan Malingraga) yang ingin menggagalkan niat Abimanyu untuk tapa mbisu. Apabila Madubranta tidak mampu menghadapi godaan, maka usahanya untuk pergi ke tempat pohon beringin putih tidak akan tercapai, yang berati gagal usahanya untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat. Pohon beringin putih adalah satu-satunya tempat yang baik untuk tapa mbisu agar cita-citanya tercapai. Dengan demikian kegagalan menuju ke pohon beringin putih berarti semua jerih-payahnya selama ini menjadi sia-sia. Oleh karena itu Abimanyu berusaha untuk menyingkirkan kedua raksasa tersebut. Puncak laku yang harus dilaksanakan untuk menyambut penitisan Wahyu Cakraningrat adalah tapa mbisu di bawah pohon beringin putih, yakni bertapa dengan cara tidak boleh mengeluarkan suara apapun. Pada saat Abimanyu menjalankan ritual tersebut, Wahyu Cakraningrat menitis ke dalam dirinya. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa Abhimanyu melakukan sebuah laku, yakni menjadi pertapa dan puncaknya melaksanakan tapa mbisu di bawah pohon beringin putih. Sebagai pertapa yang gentur tapane, ia selalu melantunkan mantra-mantra pujian. Cara ritual yang dilakukan merujuk pada tata cara ritual dalam tataran Wedik. Dengan demikian tampak bahwa Abimanyu adalah penganut tataran Wedik. Hal demikian berbeda dengan tataran ritual Raden Sarja Kusuma maupun Raden Samba. Raden Sarja Kusuma yang kapasitasnya memiliki aspek raksasa ditunjukkan sebagai pemuja Durga yang posisinya berseberangan dengan Batara Kamajaya sebagai pengatur turunnya wahyu karaton, atau dengan kata lain bahwa Raden Sarja Kusuma adalan penganut tataran Tantrik. Raden Samba meskipun putra Prabu Kresna (titisan) Wisnu tetapi tataran ritualnya tidak ditunjukkan secara jelas sebagai penganut tataran Tantrik atau tataran Wedik.

Penunjang aspek Wisnu (Wahyu Cakraningrat) dalam diri Abimanyu (kaitannya dengan pancering ratu tanah Jawa) adalah ciri-ciri khusus tipikalnya yang ditunjukkan dalam Lakon Wahyu Cakraningrat sebagai berikut.[28]

1) Abimanyu merupakan titisan Wahyu Maningrat, salah satu dari tiga wahyu karaton. Wahyu ini merupakan transformasi dari aspek Soma, yaitu dewa kemegehan dan ketampanan sehingga Abimanyu memiliki kesempurnaan lahir dan batin sebagai prototipe raja ideal.

2) Sesuai dengan namanya, Abhita-manyuna saha ia memiliki kesaktian dan keberanian yang sangat hebat. Kebijaksanaannya seperti Prabu Kresna.[29]

3) Abimanyu merupakan seorang kesatria yang bawa leksana, bijaksana, menghargai antarsesamanya sehingga mampu menciptakan suasana manunggaling kawula-Gusti.

4) Abimanyu merupakan keturunan Pandawa, yakni sebuah dinasti yang memiliki keluhuran dan keagungan.

5) Kepandaian, ketampanan dan, kesaktiannya setara Arjuna..

6) Memiliki perilaku yang sopan dan santun.

Karakter Abimanyu dalam lakon ini memiliki kesamaan kapasitas Abhimanyu[30] yang ada dalam tradisi Mahãbhãrata. Hal demikian sangat mungkin bahwa kapasitas Abimanyu tradisi pedalangan merupakan resapan yang sekaligus tanggapan dari Abimanyu tradisi Mahabharata yang telah mengalami transformasi kreatif “masyarakat Jawa”.[31] Semua aspek mitologi Abimanyu menunjukkan adanya paralelisme, yaitu kapasitas seorang raja ideal. Abimanyu memiliki aspek Soma ditunjukkan dalam Lakon Wahyu Maningrat. Ia memiliki aspek Wisnu ditunjukkan melalui Wahyu Cakraningrat. Kedua dewa ini merupakan dewa unggul sebagai prototipe raja ideal. Dengan aspek kedewaan yang dimiliki Abhimanyu ini maka dalam tradisi Mahabharata ia disebutkan memiliki tipikal sebagai berikut.[32]

1) ia adalah keunggulan Prabu Kresna, dan

2) ia sebagai kehebatan para Pandawa

(1) Keteguhan hatinya setara dengan Yudistira,

(2) Kebijaksanaannya seperti Prabu Kresna,

(3) Kedahsyatannya menyamai Bima,

(4) Kepandaian, ketampanan, dan kesaktiannya setara Arjuna, dan

(5) Sopan santun dalam perilakunya seperti Nakula dan Sadewa.

Dengan tipikal yang demikian maka kapasitas kerajawiannya melebihi Kresna dan Yudistira.

Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan adanya paralelisme antara Abimanyu tradisi pedalangan Ngayogyakarta dengan tradisi Mahãbhãrata. Oleh karena itu sangat mungkin apabila semua kapasitas Abimanyu dalam tradisi wayang Ngayogyakarta, khususnya dalam Lakon Wahyu Cakraningrat ini merupakan wujud “baru” dari tradisi Mahãbhãrata maupun tradisi Hindu India Kuna dan membuatnya ditetapkan sebagai pancering ratu tanah Jawa yang dikukuhkan dengan kedudukannya sebagai penerima wahyu karaton. Pemahaman demikian dapat dimaklumkan karena di Jawa, seorang raja diidealkan sebagai titisan Wisnu. Dalam tradisi pedalangan, anggapan bahwa raja adalah titisan Wisnu tidak dimunculkan melainkan ditransformasikan menjadi aspek Wisnu, yaitu Wahyu Cakraningrat.

Abimanyu didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa dan sekaligus sebagai konsep raja ideal sehingga kriteria raja ideal pun tampak juga mengacu pada tipikal Abimanyu. Tipikal raja ideal dalam pandangan masyarakat Jawa diformulasikan sebagai berikut.[33]

1) Raja adalah penguasa tunggal dalam mikrokosmos.

2) Ia adalah wakil Tuhan di bumi maka harus memiliki kesempurnaan lahir dan batin.

3) Seorang raja harus pandai, adil, dan bijaksana.

4) Harus bawa leksana, dan mampu menciptakan hubungan dengan rakyatnya dalam kondisi manunggaling kawula-Gusti.

5) Ia harus mendapatkan wahyu karaton.

6) Dalam melaksanakan roda pemerintahan harus menjalankan prinsip astabrata sebagai manifestasi dari sifat bulan, matahari, awan, bintang, angin, api, samudera, dan bumi.[34]

Apabila seorang raja memenuhi semua kriteria tersebut maka semua yang dicita-citakan oleh seluruh negeri akan tercapai.

Pararelisme Raja Ideal dalam Tradisi Jawa dan Tradisi Hindu India Kuna

Tipikal raja ideal di atas memiliki pararelisme dengan konsep raja ideal dalam pandangan masyarakat Hindu India Kuna. Hal demikian dimaklumi karena agama Hindu beserta kebudayaannya sangat besar pengaruhnya terhadap kebudayaan Jawa; dan bahkan dapat dikatakan bahwa sebagian besar kebudayaan Jawa bersumber pada kebudayaan Hindu India Kuna. Oleh karena perjalanan sejarahnya yang sangat panjang dan telah mengalami pewarisannya yang disertai penafsiran baru, maka tidak mustahil apabila transformasi konsep-konsep Hindu tersebut mengalami perubahan dan membentuk wujud baru. Gagasan tentang konsep raja ideal mendapat tanggapan dari tradisi pedalangan dan kemudian ditransformasi dalam diri Abimanyu yang salah satunya diformulasikan dalam bentuk Lakon Wahyu Cakraningrat yang menguraikan tipikal Abimanyu seperti telah disebutkan di atas.

Tradisi masyarakat Hindu India Kuna menganggap bahwa raja adalah penguasa tunggal yang mengatur segala kehidupan di bumi. Dalam tradisi Hindu disebutkan bahwa seorang pemimpin, dalam hal ini raja harus memiliki tiga kapasitas sebagai prototipe raja ideal sebagai berikut.[35]

1) Kapasitas prajapati, ia harus memiliki karakter dighabãhu agar seluruh wilayah kekuasaannya maju dan terkenal sehingga disegani negara lain.[36] Meskipun demikian dalam menjalankan roda pemerintahan harus didasari rasa cinta kasih serta mengutamakan kedamaian sebagaimana sifat brahmana.

2) Seorang raja harus memiliki aspek rajawi yang disebut cakravartin, yakni aspek Wisnu. Sebagaimana peranan Wisnu sebagai pemelihara dan pengayom dunia, maka keberadaannya akan selalu diharapkan oleh seluruh warga negara agar kedudukan dan kekuasaannya terlindungi.

3) Seorang raja harus memiliki kesempurnaan lahir dan batin yang akan memancarkan aura kemegahan dan keagungannya sebagai pancaran kemegahan aspek rajawi Soma.

Kapasitas raja ideal tersebut di atas dalam ketatanegaraan dijabarkan sebagai manifestasi kebijakan delapan dewa, yaitu raja adalah matahari dan bulan, api dan angin, Yama dan Kuwera, serta Baruna dan Indra.[37]

Kriteria tentang raja ideal, baik secara eksplisit maupun implisit telah berusaha disampaikan dalam Lakon Wahyu Cakraningrat sesuai dengan kapasitas lakonnya. Permasalahan lakon ditekankan pada kapasitas aspek Wisnu dalam diri Abimanyu melalui Wahyu Cakraningrat. Wahyu Cakraningrat merupakan hasil transformasi kreatif dari cakravartin, yaitu keadaan spiritual seorang raja ideal yang universal dan keadaannya kekal dalam suatu siklus kehidupan sebagai pengukuh kekuasaan raja. Cakravartin merupakan aspek rajawi dewa yang mempunyai sifat unggul dan merupakan bagian terpenting dari Wisnu. Wahyu Cakraningrat dalam wujud “baru”nya merupakan aspek rajawi Hyang Pada Wenang. Hal demikian terjadi karena dalam proses transformasinya telah mengalami penafsiran “kreatif” yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat Jawa. Meskipun demikian dalam transformasinya masih mengalami kontinuitas konsep sehingga benang merah yang menghubungkan dengan tradisi akarnya masih dapat dilacak. Lakon Wahyu Cakraningrat menunjukkan gejala kontinuitas konsep tersebut, yakni kapasitas dasar tokoh Abimanyu maupun tokoh-tokoh yang lain masih dapat dilacak. Peranan Batara Kamajaya sebagai pengatur turunnya wahyu karaton merupakan bentuk transformasi dalam kontinuitasnya dari kapasitas Brahma sebagai “dewa Wedik”. Cara yang ditempuh tokoh-tokoh dalam Lakon Wahyu Cakraningrat untuk mendapatkan wahyu mengikuti jalur epik – tataran ritual – mite. Inkarnasi Wisnu sebagai prototipe raja ideal ditransformasi melalui cakravartin-nya menjadi Lakon Wahyu Cakraningrat. Seperti halnya pandangan masyarakat tradisi Jawa yang selalu mengidealkan bahwa rajanya adalah titisan Wisnu.[38]

Satu hal lagi yang menjadi idealisme masyarakat tradisi Jawa bahwasannya seorang raja harus berasal dari keturunan sebuah dinasti yang memiliki keagungan dan keluhuran.[39] Kondisi demikian dimiliki Abimanyu karena dalam epos Mahabharata disebutkan bahwa Abimanyu adalah putra pandawa, yaitu sebuah dinasti yang memiliki keagungan dan keluhuran. Oleh karena itu kemudian muncul kisah Mahabarata “baru” (“Serat Kandhaning Ringgit Purwa”)[40] yang menghubungkan pertalian darah antara raja-raja Jawa dengan keluarga Pandawa.

Secara garis besar, paralelisme tersebut dapat digambarkan dalam diagram berikut (Gambar 6).

Tradisi Hindu Lakon Wahyu Cakraningrat

aspek Soma aspek Illahi









pancaran aura/ aspek Wisnu/ Wahyu Cakraningrat

teja kemegahan cakravartin kesaktian dan kewibawaan

berbudi bawalaksana

aspek Indra/ mahabãhu kesempurnaan lahir-batin

prajapati keagungan dinasti

adil paramarta

Rectangular Callout: Abimanyudirghabãhu kebijaksanaan

kemegahan

Sifat 8 dewa: Surya, Agni,

Bayu, Candra,Indra, Yama, astabrata

kuwera, dan Baruna

Raja ideal Raja-raja Jawa

manunggaling kawula-Gusti

Gambar 6. Skema paralelisme tipikal raja ideal dalam pandangan masyarakat Jawa dengan konsep devaraja tradisi India.

Penggunaan wayang sebagai media pengungkapan konsep rajawi di Jawa dapat dimaklumi mengingat bahwa wayang sudah sangat lekat bersemayam di sanubari masyarakat Jawa tradisi bahkan seolah-olah telah menjadi semacam mitos. Penyelenggaraan pertunjukan wayang selalu dikaitkan dengan ritual dengan tujuan untuk membantu manusia agar dapat menghayati daya-daya yang ada dalam pewayangan sebagai suatu kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam dan kehidupannya serta sekaligus memberi jaminan hidup, baik masa kini maupun masa yang akan datang.[41] Oleh karena itu semua yang ada dalam wayang selalu dianggap benar. Kehidupan masyarakat Jawa telah dilingkupi wayang. Nama-nama daerah yang memiliki kesamaan dengan wayang dianggap sebagai prasasti. Wayang dipandang sebagai sejarah yang benar-benar terjadi di Jawa pada masa lampau. Oleh karena itu semua yang ada dalam wayang, baik kisah maupun kekuatan magi-religiusnya diakui sebagai kebenaran. Oleh karena itu dapat dimaklumi apabila pada momen momen tertentu, wayang digunakan sebagai pengukuh kedudukan dan kekuasaan sang penguasa.

Kasus demikian ternyata masih berlaku pula sampai sekarang, terbukti dengan diciptakan dan beberapa kali dipentaskan Lakon Semar Mbabar Jati Diri (yang pernah mementaskan lakon ini adalah Ki Timbul Hadi Prayitno, Ki Manteb Sudarsono, dan Di Purba Asmara) yang disiarkan televisi pada akhir tahun 1990-an dalam rangka meligitimasi kedudukan dan peranan Presiden Soeharto. Pada Jaman Presiden B.J. Habibie dipentaskan Lakon Rama Tambak untuk mengatasi keadaan negara Indonesia yang dilanda krisis berbagai aspek. Bahkan akhir-akhir ini Ki Jaka Edan dalam pbeberapa pertunjukannya mengidentifikasikan Amin Rais sebagai Prabu Kresna. Namun demikian pada kenyataannya usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Apakah hal ini merupakan pertanda jaman? Apakah masyarakat Jawa telah kerhilangan “Jawa”nya? Atau wayang telah tidak mampu lagi menjawab tantangan jaman? Kondisi semacam ini merupakan tugas kita untuk merenungkan dan introspeksi: Apa yang telah kita lakukan dan bagaimana akibatnya.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep Wahyu Cakraningrat merupakan transformasi dari konsep cakravartin. Kapasitas Wahyu Cakraningrat adalah aspek Wisnu untuk menunjukkan kapasitas Abimanyu bahwa ia memiliki keadaan spiritual (tipikal yang menunjukkan ciri-ciri khusus) sebagai seorang raja ideal yang universal, yang keadaannya kekal dalam suatu siklus kehidupan. Lakon ini tidak menunjukkan bahwa Abimanyu (sebagai konsep raja ideal) hanya melalui aspek Wisnu karena dalam tradisi pedalangan telah disebutkan bahwa titisan Wisnu adalah Prabu Kresna dan Arjuna.

Aspek Wisnu tersebut diperoleh Abimanyu melalui proses ritual tertentu, yakni berdasarkan kesamaan jalur mite – ritual – epik (Kamajaya – Wedik – Abimanyu). Tipikal Abimanyu yang ditunjukkan dalam lakon memenuhi kriteria tipikal seorang raja ideal. Abimanyu adalah keturunan Pandawa, yakni sebuah dinasti yang memiliki keagungan dan keluhuran tanpa cela. Menurut pemikiran tradisi masyarakat Jawa, silsilah demikian dipandang penting sebagai pengukuh kekuasaan dan kedudukan raja dalam mendukung keagungannya. Berdasarkan pemahaman ini pula kemudian Rangga Warsita dalam “Serat Pustaka Raja Purwa” menyusun silsilah raja-raja Jawa yang menghubungkan pertalian darah dengan Abimanyu.

Didudukkannya Abimanyu sebagai tempat penitisan Wahyu Cakraningrat merupakan sebuah cara untuk mengukuhkan peranannya sebagai pancering ratu tanah Jawa. Anggapan bahwa raja-raja Jawa adalah benar-benar keturunan Abimanyu (dinasti yang agung) diterima kebenarannya oleh masyarakat Jawa. Raja sebagai penguasa tunggal yang memiliki kekuasaan absolut telah terpilih secara kodrat melalui aspek Wisnu yang diterimanya sehingga kedudukan dan kekuasaannya menjadi sah diakui seluruh rakyat. Dengan demikian jelas bahwa Lakon Wahyu Cakraningrat merupakan manifestasi aspek Wisnu yang ditransformasi dari cakravartin untuk melegitimasi kedudukan dan kekuasaan raja Jawa.

Yogyakarta, Desember 2001

Penulis



Catatan.

[1] Heddy Shri Ahimsa Putra “Sebagai Teks dalam Konteks, Seni dalam Kajian Antropologi Budaya”, Seni: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, PB ISI Yogyakarta, edisi Mei 1998, p. 19.

[2] Sudiro Satoto “Fiksi dan Nonfiksi dalam Seni Pedalangan” dalam Seni; Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni, BP ISI Yogyakarta, edisi Oktober 2000, p. 127.

[3] Alf Hiltebeitel, The Ritual of Battle: Krishna in The Mahabharata, State University of New York Press, Albany, 1990, p. 360.

[4] Ibid., p. 98.

[5] Sanjukta Gupta, et. all, Hindu Tantrism, E.J. Brill, Leiden, 1979, p. 15.

[6] J. Gonda, Prayer and Blessing; Ancient Indian Ritual Terminology, E. J. Brill, Leiden, 1989, p. 4.

[7] E. Washburn Hopkins, Epic Mythology, Motilal Banarsidass, Delhi Varanasi Padna Madras, 1986, p. 80.

[8] Anonim. Upadeça; Tetang Ajaran-ajaran Agama Hindu, Jakarta: Proyek Penerangn, Bimbingan dan Da’wah/Kutbah Agama Hindu dan Budha Departemen Agama RI, 1982., p. 58.

[9] Ibid., p. 53-54.

[10] Shrii Shrii Anandamurti, Kuliah Tentang Mahabarata, terj. Ketut Nila, Jakarta: Persatuan Ananda Marga Indonesia, 1991.., p. 3.

[11] Siman Widyatmanta, Adiparwa; Jilid II. Jogjakarta: U.P. “Spring”, 1968, p. 13.

[12] Sanjukta Gupta, op. cit., p. 16.

[13] Ibid., p. 5.

[14] Ibid., p. 17.

[15] Hiltebeitel, op. cit., p. 98.

[16] Ruth Cecily Katz, Arjuna in The Mahãbhãrata; Where Krishna is, There is Victory, University of South Carolina Press, Columbia 1989, p. 112.

[17] Sebelum menitis ke Saroja Kusuma, Wahyu Cakraningrat telah menitis ke Raden Samba dengan disertai persyaratan. Oleh karena Raden Samba tidak mampu memenuhi persyaratan tersebut, maka Wahyu Cakraningrat meninggalkannya.

[18] J. Gonda, Ancient Indian Kingship from the Religious Point of View, E.J. Brill, Leiden, 1969, p. 4.

[19] Ong Hok Ham, “Persepsi Kebudayaan Cendikiawan Indonesia” dalam Persepsi Masyarakat Tentang Kebudayaan. ed. Alfian, Gramedia, Jakarta, 1985, p. 8.

[20] Gonda, op. cit., p. 123.

[21] Ibid.

[22] Ibid., p. 124.

[23] Ibid., p. 125.

[24] Ibid., p. 123.

[25] Sukumari Bhattacharji, The Indian Theogony, At The University Press, Cambridge, 1970, p. 300.

[26] Ibid., p. 297.

[27] G. Moedjanto, Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta: Kanisius, 1994, p. 51.

[28] Periksa Ki Hadi Sugito, Lakon Wahyu Cakraningrat, Produksi Dahlia Record, NPWP/TH:: 4.175.698.2 – 504/1992 kaset no. 4 sampai 8.

[29] Siman Widyatmanta. op. cit., p. 111.

[30] Penulisahn yang Abhimanyu menunjukkan bahwa objek merujuk pada tradisi Mahabharata Sanskrit, sedangkan Abimanyu merujuk pada tradisi Mahabarata Jawa (pedalangan).

[31] Kuntara Wiryamartana, Arjuna Wiwaha, Yogyakarta, Duta Wacana University Press, 1990, p. 463.

[32] Hiltebeitel, op. cit., p. 336.

[33] Soemarsaid Moertono. Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau; Studi Tentang Masa Mataram II, Abad XVI – IX, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985, p. 17-52.

[34] Ki Ng. Wignya Soetarno, Wahyu Pakem Makutharama, Surakarta: STSI Surakarta Press, Pasinaon Dhalang Ing Mangkunegaran, 1996, p. 93-94.

[35] Periksa Gonda, op. cit., p. 1-10.

[36] Ibid., p. 5.

[37] Ibid., p. 24-28. Bandingkan dengan Astabrata di Jawa.

[38] Periksa Soedarsono, Wayang Wong: Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990, p. 101-107.

[39] Bandingkan Victoria M. Clara van Goenendael. Dalang di Balik Wayang, Grafiti Pers, Jakarta, 1987, p. 88. Bandingkan pula dengan Soedarsono, op. cit., p. 107.

[40] Periksa Subalidinata, dkk., Serat Kandhaning Ringgit Purwa: 9 Jilid, Salinan dari naskah tangan L Or. 6379, Semarang: Djambatan, 1995.

[41] C. A. Van Peursen, Strategi Kebudayaan, Kanisius, Yogyakarta. 1992, p. 38-39.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda