Rabu, 24 Juni 2009

ANALISIS LAKON WAHYU WIDAYAT: Aspek Rajawi Indra Sebagai Legitimator Kekuasaan Raja Jawa

Oleh: Aris Wahyudi

ABSTRAC

Wahyu Widayat is central figure of Wahyu Widayat story. The capacity was told as devine revelation of the king. His existentions to complete of Wahyu Cakraningrat and Wahyu Maningrat, in which he was a decisive factor of ancestor of Javanese’s kings. I think that Wahyu Widayat’s meaning is related with the Javanese’s kingship concept.

This article discusses about Wahyu Widayat’s meaning, in which his capoacity as kingship concept. Structuralism analisys explaines, in which the Wahyu Widayat is transformation from the Indra’s kingship concept, in which his existention is used to legitimation of Javanese’s kings.

Key word:

Wahyu Widayat, Indra’s Kingship aspect, legitimation of Javanese’s kings.

Pendahuluan

Wayang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik bentuk, narasi, karakter, fungsi dan kedudukannya dalam masyarakat Jawa. Namun demikian masih dapat dilacak jejak-jejak konsep dasarnya. Wayang adalah filsafat universal, mitos bagi masyarakat Jawa untuk menjelaskan dunianya. Oleh karena itu semua yang disebutkan dalam wayang dipandang sebagai sebuah kebenaran, termasuk juga mengenai Wahyu Widayat sebagai pembentuk pancering ratu tanah Jawa ini.

Sebagai pembentuk pancer ratu, jelas bahwa Wahyu Widayat mengandung makna tertentu yang berkaitan dengan pandangan Jawa tentang konsep kekuasaan raja. Berkenaan dengan konsep wayang disebutkan Aris Wahyudi bahwa dalam mitologi wayang masih dapat ditemukan konsep-konsep yang mengindikasikan kesinambungannya dengan mitologi tradisi Mahabharata Hindu, yakni masih dijumpainya pemahaman bahwa semua tokoh epik memiliki aspek mite dan segala perbuatannya tidak lepas dari campur tangan dari tokoh tataran mite. Oleh karena itu dalam melacak makna lakon Wahyu Widayat ini tidak dapat mengabaikan mitologi Hindu sebagai akarnya.[1] Dalam rangka melacak konsep lakon wayang seyogyanya menggunakan konsep Jawa, yaitu asma kinarya japa (nama sebagai mantra). Di sini tampa bahwa pemberian dan pemilihan nama adalah sesuatu yang dianggap sangat penting. Nama dan sesuatu yang diberi nama ada keterkaitan yang kuat sebagai satu kesatuan. Nama adalah tanda dan yang punya/diberi nama adalah yang ditandai. Berkenaan dengan makna yang terkandung dalam konsep asma kinarya japa, terdapat kesamaan dengan pandangan Lévi-Strauss dalam penjelaskan mengenai analisis structural terhadap makna sebuah mitos adalah sebagai berikut.

“(1). Myth, like the rest of language, is made up of constituent units. (2). These constituent units presuppose the constituent units present in language when analyzed on other levels-namely, phonemes, morphemes, and sememes-but they, nevertheless, differ from the latter in the same way as the latter differ among them selves: they belong to a higher and more complex order. For this reason, we shall call them “gross constituent units.”[2]

Kutipan di atas menjelaskan bahwa cara memahami mitos adalah melalui fenomena bahasa yang tersusun dari beberapa unit unsur pokok. 2). Unit-unit unsur pokok tersebut apabila dianalisis pada tingkatan lain seperti fonem, morfem, dan sememes mensyaratkan unit unsur pokok yang ada dalam bahasa. Mamun demikian kesemuanya itu tidak sama dengan gejala bahasaan, melainkan lebih tinggi dan lebih kompleks. Asma sebagai sebutan (penanda) mengandung makna tertentu bagi yang punya nama (tinanda). Dalam pandangan Jawa, penanda di sini dipandang sebagai mantra (kinarya japa). Jadi jelas bahwa konsep asma kinarya japa berkenaan dengan penandaan terhadap sesuatu, dan sering kali berkaitan dengan proses penciptaan (terjadinya sesuatu). Makna nama tidak hanya terbatas dari arti nama itu sendiri melainkan lebih kompleks, berkaitan dengan berbagai persoalan. Pengertiannya bahwa untuk mengetahui makna dari sesuatu (tinanda) dapat dilacak dari nama itu sendiri (penanda) yang kemudian dirunut lebih lanjut dengan berbagai persoalan yang ada kaitannya, baik atas dasar sinkronik, diakronik, mapun sindiakronis sekaligus.

Lakon wayang dapat diuraikan menjadi beberapa bagian yaitu menjadi tiga pathet, tujuh jejer, dan beberapa adegan. Masing-masing adegan menampilkan tokoh, peristiwa, dan seting sebagai unsur tekecil yang disebut miteme. Artinya, lakon wayang terdiri dari miteme-miteme yang dibangun dalam suatu sistem relasi. Dengan demikian makna sebuah lakon wayang sangat ditentukan oleh sistem relasi antar miteme, baik secara sintagmatik dan paradigmatik. Relasi sintagmatik untuk menjelaskan antar relasi yang terjadi dalam jalinan cerita itu sendiri, sedangkan relasi paradigmatic menjelaskan relasi antara cerita dengan pandangan masyarakat Jawa maupun dengan teks-teks yang lain (intertekstual).

Agar pelacakan makna lakon Wahyu Widayat ini terfokus maka permasalahan yang dibicarakan dipilah menjadi tiga pokok persoalan, yaitu: Pertama, permasalahan yang berkenaan dengan proses pewahyuan; Kedua, persoalan yang berkenaan dengan makna Wahyu Widayat sebagai wahyu ratu; dan Ketiga, kapasitas Abimanyu didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa.

Proses Pewahyuan Wahyu Widayat

Persoalan yang dibahas dalam proses pewahyuan meliputi cara-cara yang ditempuh tokoh-tokohnya serta terjadinya penitisan wahyu, serta usaha mereka untuk menjadi raja di Astina. Penggabungan ini dilakukan karena barang siapa yang mendapatkan Wahyu Widayat, ialah yang berhak menduduki tahta Astina dan menjadi pancer ratu, dan sebaliknya barang siapa yang ingin menjadi pancer ratu harus mendapatkan Wahyu Widayat terlebih dahulu. Dengan demikian keinginan menjadi pancer ratu berarti sama dengan mencari Wahyu Widayat dan menjadi raja Hastina.

Dalam lakon Wahyu Widayat terdapat lima tokoh yang berusaha mendapatkan wahyu, yaitu Gatutkaca, Irawan, Antareja, Prabu Jalma Kuncara, dan Abimanyu. Masing-masing menempuh cara yang berbeda-beda. Irawan dan Gatutkaca berusaha merebut tahta secara langsung, sedangkan yang lainnya justru mengutamakan mencari wahyu. Sebagaimana saran Hiltebeitel yang telah dilakukan Aris Wahyudi dalam melacak makna lakon Wahyu Cakraningrat bahwa proses pewahyuan dalam wayang sangat terkait dengan jalur epik – ritual – mite. Artinya, pewahyuan akan terjadi apabila antara tokoh epik dan tokoh mite berada dalah satu jalur epik – ritual – mite. Oleh karena dalam rangka pelacakan ini dengan cara mengidentifikasi tataran ritual yang ditempuh masing-masing tokoh tersebut.

Irawan atas dukungan Antasena berusaha merebut tahta Astina. Ia tidak memperhatikan berita tentang akan turunnya Wahyu Widayat. Dengan demikian sudah tentu Irawan tidak akan mendapatkan Wahyu Widayat, dan berarti ia tidak akan menjadi pancer ratu.

Raden Antareja ingin menjadi raja dan bahkan pancering ratu tanah Jawa. Atas saran kakeknya (Batara Antaboga), Antareja terlebih dahulu harus mencari Wahyu Widayat dengan cara bertapa di gunung Siula-ulu. Usahanya berhasil terbukti ia dapat bertemu dengan Wahyu Widayat. Tata cara demikian sebagai indikasi bagian dari tata cara dalam tataran Wedik. Dengan demikian Antareja adalah penganut tataran Wedik yang berarti pemuja Brahma.

Berbeda dengan Antareja, cara yang ditempuh Gatutkaca adalah menghadap kepada gurunya (Resi Seta) untuk meminta bantuan agar ia dapat menjadi raja atau pancer ratu. Resi Seta menyatakan bahwa usaha Gatutkaca akan berhasil apabila ia mampu memijam dhampar kencara Negara Astina, baik dengan cara halus maupun kekerasan (dipaksa). Langkah demikian mengindikasikan bahwa usaha Gatutkaca untuk mencapai kenikmatan di masa datang tanpa melalui proses ritual. Langkah ini sebagai identifikasi Gatutkaca mengikuti pahan Tantrik. Hal demikian ternyata memiliki kesesuaian dengan paham Resi Seta, gurunya. Kapasitas Resi Seta sebagai brahmacarya berarti ia menolak paham artha dalam ajaran Wedik.

Prabu Jalma Kuncara mendapat petunjuk dari dewa agar mencari Wahyu Widayat. Oleh karena tidak mengetahui tempat turunnya sang wahyu, maka atas saran adiknya ia pergi ke Negara Amarta. Ketika mendengar bahwa Abimanyu telah mendapatkan Wahyu Widayat, ia berusaha untuk merebutnya. Usahanya gagal, dan ia dibunuh oleh Werkodara. Melihat kapasitasnya dalam lakon mengindikasikan bahwa keberadaannya hanyalah sebagai tokoh rekaan yang ditambahkan dalam rangka memenuhi kebutuhan garap lakon. Oleh karena itu dalam pembicaraan selanjutnya, tokoh ini diabaikan.

Abimanyu berbeda dengan ketiga saudaranya di atas (Irawan, Antareja, dan Gatutkaca). Ia tidak memiliki ambisi untuk menjadi raja ataupun pancer ratu. Tujuannya menghadap Resi Anoman hanya ingin mengetahui maksud dari wangsit yang telah diterimanya.

Resi Anoman menyatakan bahwa Abimanyu akan mendapat anugerah dari dewa, tetapi untuk meraihnya harus tapa mbisu di hutan siula-ulu. Langkah yang ditempuh Abimanyu tersebut mengidikasikan bahwa Abimanyu adalah penganut ajaran Wedik. Tapa mbisu dipandang sebagai sebuah laku adalah bagian dari praverti dalam ajaran Wedik.

Berdasarkan proses yang ditempuh keempat tokoh dalam mendapatkan wahyu dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu Irawan, Gatutkaca, dan Prabu Jalma Kuncara adalah penganut tataran Tantrik. Antareja dan Abimanyu adalah penganut tataran Wedik. Keberhasilan para tokoh untuk mendapatkan wahyu sangat tergantung dari keberadaannya dalam jalur epik – ritual – mite. Hanya mereka yang berada dalam satu jalur epik – ritual – mite yang memiliki kemungkinan untuk mendapatkan wahyu.

Sebagaimana dipahami dalam tradisi pedalangan Ngayogyakarta bahwa turunnya wahyu kraton diatur oleh Batara Kamajaya. Kamajaya adalah identifikasi dari Batara Kama, yang berarti pula sebagai identifikasi Brahma. Dengan demikian jelas bahwa tokoh yang berada dalam satu jalur epik – ritual – mite adalah mereka yang melaksanakan tata cara ritual tataran Wedik.

Berdasarkan kriteria tersebut jelas bahwa hanya Antareja dan Abimanyu yang memiliki kemungkinan mendapatkan Wahyu Widayat. Karena wahyu Widayat hanya satu dan yang memperebutkan ada dua maka seleksi berikutnya adalah takdir. Hal demikian tampak ditunjukkan dalam dialog antara Antareja dan Wahyu Widayat yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.

Wahyu Widayat : “Cucuku Antareja!”

Antaraja : “Siapakah gerangan yang mendekati hamba?”

Wahyu Widayat : “Saya, Wahyu Widayat.”

Antaraja : “Duh Wahyu, sudilah kiranya paduka menolong hamba, berkenanlah menitis dalam diri hamba.”

Wahyu Widayat : “Hong Bawana Langgeng. Adalah takdir Antareja. Melihat tanda-tanda, engkau bukanlah orang yang tepat untuk mendapatkan wahyu. Namun demikian, apabila engkau berkehendak mendapatkan wahyu, saya merestui asalkan engkau mampu menundukkan gajah yang sedang mengamuk di Negara Astina”

(kaset ke 7 side B)

Pernyataan bahwa Antareja tidak berhak atas Wahyu Widayat menunjukkan bahwa permasalahan Wahyu berkenaan dengan takdir. Karena sudah suratan takdir bahwa Antareja tidak berhak atas Wahyu Widayat maka segala usahanya tidak membuahkan hasil, ia kalah melawan Gajah Antisura.

Abimanyu tampak sebagai tokoh yang dipilih atas dasar takdir untuk mendapatkan Wahyu Widayat seperti dalam kandha sebagai berikut.

Dèrèng ngantos pantara dangu nggènnya ngeningaken cipta, kocapa sing nglayang sangking jumantara kumelap pindha thathit, Wahyu Widayat kang wus noyah-nayuh baskara titi mangsa manunggal marang keng raka Maningrat tuwin Cakraningrat.” (kaset ke 8 side A)

[Belum seberapa lama mereka mengheningkan cipta, tersebutlah yang sedang melayang-layang di angkasa, bercahaya bagaikan kilat, dialah sang Wahyu Widayat yang sudah tiba saatnya menitis, ditakdirkan untuk menyatu dengan Wahyu Maningrat dan Wahyu Cakraningrat.]

Kalimat noyah-nayuh baskara titi mangsa mengandung pengertian “saat (takdir) telah tiba”. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Wahyu Widayat menitis kepada Abimanyu merupakan takdir sehingga proses penitisannya tanpa melalui persyaratan seperti yang dialami Antareja. Takdir itu dipertegas dengan keberadaan Wahyu Maningrat dan Cakraningrat dalam diri Abimanyu.

Secara garis besar proses pewahyuan yang dialami ketiga tokoh dalam lakon Wahyu Widayat dapat digambarkan dalam diagram berikut.

Tataran mite

Kamajaya/Brahma




Wahyu Widayat

Tataran ritual

Pewahyuan


Tapa mbisu Bertapa

Tataran epik meminjam dhampar kencana

Abimanyu Antareja Gatutkaca

Keterangan:

: proses pewahyuan sempurna.

: proses pewahyuan terputus.

: Proses pewahyuan tidak terjadi.

Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa kapasitas Abimanyu sebagai penerima Wahyu Widayat karena ia seorang Wedik sejati, dalam menjalankan ritual tidak dikuasai ambisi pribadi, serta dalam dirinya telah bersemayam Wahyu Maningrat sebagai wahyu wiji ratu dan Wahyu Cakraningrat pancering ratu tanah Jawa. mendapatkan Wahyu Widayat dan mampu meredam kemarahan Gajah Antisura. Antisura mengangkat Abimanyu dan mendudukkannya di dhampar kencana Negara Astina. Dengan demikian Abimanyu nantinya berhak atas tahta Astina dan ia sebagai pancering ratu tanah Jawa.

Wahyu Widayat Sebagai Transformasi Aspek Rajawi Indra

Sebagaimana telah disebutkan dalam bab sebelumnya bahwa pengertian kata wahyu widayat adalah anugerah dari Tuhan yang berupa ilmu pengetahuan. Makna demikian tidak dapat serta merta dimasukkan dalam konsep pedalangan. Oleh karena itu dalam transformasinya diperlukan identifikasi tertentu dalam rangka kebutuhan pertunjukan. Selain hal demikian, identifikasi di sini dimanifestasikan menjadi aspek mite (dewa) yang memiliki keterkaitan dengan konsep kerajawian.

Permasalahan yang penting untuk ditelusuri dalam kasus ini adalah keterkaitan antara makna kata whyu widayat dan aspek kerajawian. Penerapan pendekatan eitologi kontekstual adalah melalui penelusuran terhadap berbagai aspek untuk mendapatkan pemahaman yang sesuai dari nama-nama tersebut atas dasar konteks lakon wayang.

Lakon wayang sebagai satu kesatuan makna yang utuh tersusun atas dasar relasi dari beberapa adegan dan peristiwa dalam rangka mendukung kapasitas permasalahan dan tokoh penting. Tokoh-tokoh di sini mewakili symbol-simbol yang harus ditafsirkan kembali berdasarkan antarrelasinya.

Wahyu Widayat sebagai wahyu ratu merupakan identifikasi aspek kerajawian Indra. Pemahaman demikian dapat dilacak melalui kronologi lakon Wahyu Widayat yang menunjukkan adanya keterkaitan yang sangat erat antara Wahyu Widayat dan Gajah Antisura. Wahyu Widayat sudah saatnya menitis. Pada adegan lain, Antisura pergi dari Astina untuk mencari tuan yaitu Wahyu Widayat seperti dalam dialog yang telah diterjemahkan berikut.

Antisura : “Padukalah yang hamba cari.”

Wahyu Widayat : “Nah ini Antisura?”

Antisura : “Daulat Pukulun. Hamba tidak betah menyertai orang-orang Astina. Aura raja Astina sangat panas tak terkirakan. Hamba ingin ikut paduka pukulun.”

Wahyu Widayat : “Kalau kamu ingin ikut aku, belum saatnya. Sebaiknya berpandai-pandailah memilih calon yang kamu asuh dan kau harus mengetahui siapakah orang yang menjadi tempat penitisanku. Tanda-tandanya adalah kalau sudah ada orang yang mampu mengalahkan kamu yang sedang mengamuk di Astina. Oleh karena itu sekarang berangkatlah dan mengamuk di Astina. Kalau belum ada, berarti belum ada orang yang layak dicalonkan sebagai sesembahan rakyat seluruh negri.”

Hubungan Wahyu Widayat dengan Gajah Antisura merupakan indicator dari personifikasi hubungan Indra dengan Gajah Airawana. Wahyu Widayat sebagai dewa ilmu pengetahuan didukung oleh gajah Antisura. Kapasitas Antisura di sini dipandang sebagai personifikasi Batara Ganesha, yaitu dewa pengetahuan yang berujud manusia berkepala gajah. Oleh karena itu Abimanyu yang telah mendapatkan Wahyu Widayat mampu menundukkan Antisura, ibarat hamba bertemu dengan tuannya.

Sebagaimana pengertian kata wahyu yaitu anugerah Tuhan yang menjadikan penerimanya memiliki kedudukan dan kapasitas “linuwih” atas dasar kodrat, Wahyu Widayat menjadikan Abimanyu memiliki kelebihan di atas semua tokoh yang ada dalam lakon ini. Abimanyu telah dikodratkan sebagai penguasa.

Wahyu Widayat sebagai aspek ilmu pengetahuan Indra merupakan salah satu unsure penting pembentuk tipikal raja ideal. Pemahanan demikian merupakan gejala kontinuitas dalam transformasi konsep kerajawian dalam tradisi Hindu, yakni raja ideal adalah raja yang menguasa hokum dan ilmu pengetahuan secara sempurna selayaknya kapasitasnya sebagai pemegang dhandha.[3] Raja ideal harus memiliki pengetahuan yang sangat luas, bahkan menjadi sumber dari segala ilmu pengetahuan. Berdasarkan kapasitas yang demikian diharapkan sang raja mampu menciptakan hukum yang adil dan melaksanakan roda pemerintahan dengan bijaksana. Pemaknaan ini tampak sebagai identifikasi wahyu hukumah dalam konsep kekuasaan raja-raja Mataram Islam.[4]

Antisura sebagai identifikasi aspek Indra dapat dilacak melalui proses terjadinya Negara Astina, yakni berasal dari sarang burung dan telor penjelmaan Indra. Sarangnya menjelma menjadi Negara Astina, telornya menetas menjadi Prabu Hasti (raja berkepala gajah), dan kulit telornya menjelma menjadi gajah Antisura. Dengan demikian dapat dipahami apabila tugas gajah Antisura adalah menjaga singgasana Astina.

Meskipun tidak disebutkan tentang warna Gajah Antisura, namun berdasarkan asal-usulnya dapat interpretasikan berwarna putih sebagaimana warna kulit telor. Kapasitas dan peran Antisura yang demikian mengindikasikan sebagai personifikasi Gajah Aerawana, gajah kendaraan Indra dalam kapasitasnya sebagai surapati. Gajah adalah kendaraan raja (gajarãjavãhana).[5]

Sebagai aspek rajawi Indra, Wahyu Widayat mampu mendudukkan penerimanya sebagaimana layaknya Indra sang surapati. Kapasitas Indra sebagai raja ditunjukkan melalui tipikalnya sebagai berikut. Ia duduk di singhasana yang indah dengan memakai gelang merah, mengenakan jubah putih, dan memakai perhiasan beraneka warna. Semua asesoris tersebut merupakan simbol kemegahan. Konsep demikian tampak digunakan juga oleh raja-raja Jawa yaitu raja memakai mahkota, duduk di singgasana, memiliki berbagai gelar. Perubahan demikian dilakukan dalam rangka menyesuaikan dengan cita rasa bangsa Jawa.

Aspek rajawi Indra sebagai sumber ilmu pengetahuan merupakan elemen penting dalam konsep kekuasaan Jawa. Seorang raja harus memiliki pengetahuan yang tanpa batas sehingga tidak ada yang menandinginya. Gajah sebagai symbol kemegahan (kendaraan) raja tampak masih diberlakukan sampai sekarang, terbukti di karaton Nyayogyakarta masih memanfaatkan pandangan tersebut dengan memeihara gajah yang dibuatkan tempat tersendiri di gajahan, sebelah barat alun-alun kidul.

Abimanyu Sebagai Pancering Ratu Tanah Jawa

Dalam rangka memahami alasan dipilihnya Abimanyu sebagai pancering ratu tanah Jawa perlu melihat pula kapasitas Antareja, Gatutkaca, dan Irawan sebagai tokoh pembanding. Dalam rangka memahami kapasitas masing-masing tokoh perlu ditelusuri berdasarkan aspek mite yang dikandung dalam tokoh-tokoh tersebut.

a. Antareja

Tokoh Antaraja tidak dijumpai dalam tradisi Mahãbhãrata. Hal demikian mengindikasikan bahwa Antareja adalah tokoh “baru” yang ditambahkan oleh pujangga Jawa. Penciptaan ini tentunya didasarkan pada suatu maksud (tidak dibicarakan secara panjang lebar dalam tulisan ini). Antareja adalah putra Wrekodara dari ibu Dewi Nagagini, putri Batara Antaboga, penguasa para naga. Kasatrian-nya di Jangkarbumi atau Saptapertala. Sebagai putra naga, tentunya di dalam dirinya mengalir darah ular dan bahkan ia dapat dimasukkan dalam golongan Ular (Naga).

Melihat fenomenanya, pemilihan nama antareja berasal dari ananta raja. Nama Ananta (bhogavat) dijumpai dalam tradisi Mahãbhãrata sebagai ular yang berada di atas air. Ia adalah seekor ular yang sangat luar biasa dan sangat setia kepada Wisnu. Nama Ananta dijelaskan sebagai bagian dari Anantabhoga.[6] Pemahaman demikianlah tampaknya yang digunakan sebagai pijakan untuk memunculkan tokoh baru Anantareja sebagai cucu Anantaboga. Sebagai naga, kapasitas Antareja dapat disejajarkan dengan gajah sebagaimana analogi Airãvata sebagai leluhur bangsa naga dan sekaligus dewa para naga (devanãga).[7] Airãvata adalah gajah kendaraan Indra. Dengan demikian Antareja melawan Antisura merupakan personifikasi bangsa naga melawan bangsa gajah, leluhur sekaligus dewanya. Oleh karena itu wajar apabila Antareja kalah melawan Antisura.

Telah disebutkan bahwa Antareja tidak ditakdirkan sebagai penerima Wahyu Widayat. Logikanya memang demikian karena naga adalah kendaraan dan sekaligus abdi Indra, maka tidak mungkin Wahyu Widayat sebagai personifikasi Indra melayani naga. Melainkan justru Antareja yang seharusnya melayani Wahyu Widayat bersama-sama dengan Antisura. Aspek mite dan silsilah Antareja ini sebagai bangsa naga bukanlah sebuah dinasti yang diidealkan bangsa Jawa untuk dijadikan leluhur para rajanya. Dengan kata lain bahwa orang Jawa tidak menghendaki bahwa raja-rajanya adalah keturnan naga karena bagaimanapun naga adalah binatang yang memiliki tataran di bawah manusia. Penolakan ini diekspresikan melalui kegagalannya atas dasar kodrat dalam usahanya mendapatkan Wahyu Widayat.

b. Irawan.

Irawan adalah putra Arjuna dari ibu Dewi Ulupi. Menurut tradsisi Mahãbhãrata, Dewi Ulupi disebut Nãgarãjasnusã, yaitu sebangsa naga yang hidup di air. Sebagai putra Ulupi, berarti Irawan adalah juga tergolong bangsa naga sebagaimana Antaraja. Dengan demikian kapasitasnya dalam lakon ini sejajar dengan Antareja. Oleh karena itu ia juga kalah melawan gajah Antisura serta tidak berhasil mendapatkan Wahyu Widayat.

c. Gatutkaca.

Gatutkaca adalah putra Bima dengan Dewi Arimbi (dalam tradisi Mahãbhãrata disebut Hidimbã), bangsa raksasa. Menurut tradisi Mahãbhãrata, raksasa terdiri dari beberapa jenis yaitu setan, gandarwa, hantu dan sejenisnya. Kedudukannya disejajarkan dengan dewa berada dalam tataran mite.[8] Bangsa raksasa memiliki ciri-ciri berbadan besar, berkulit hitam, berwajah menyeramkan dan sebagainya. Mereka adalah bangsa yang hidup di malam hari.

Menurut tradisi Mahãbhãrata, Gatutkaca tidak tampan sebagaimana yang dikenal di Jawa sekarang ini. Ia adalah manusia setengah raksasa yang memiliki telinga berdiri, berambut kaku, perutnya buncit, berkulit hitam, bermata merah, berhidung besar, mukanya berwarna merah tembaga, lidahnya panjang dan berwarna kemerah-merahan, taringnya empat, mulutnya lebar dari telinga kiri sampai telinga kanan, dan sebagainya.[9] Dengan demikian konsep asal Gatutkaca adalah manusia setengah raksasa. Nama Gathotkaca berasal dari dua kata, yaitu gatha yang artinya kuali (belanga) dan utkaca yang artinya tengkurap. Jadi gathotkaca artinya seperti belanga yang tengkurap.

Masyarakat jawa rupa-rupanya merasa keberatan apabila Bima, salah satu tokoh idolanya memiliki putra seorang raksasa, oleh karena itu wajahnya disempurnakan melalui lakon Wahyu Topeng Waja. Meskipun Gathotkaca telah menjadi tampan tetapi memiliki dua pantangan. Pertama tidak boleh tertawa; dan kedua tidak boleh menggigit apa apabila sedang perang karena akan kelihatan keraksasaannya. Aspek taring yang tajam mampu memotong leher lawan ditransformasikan menjadi ajian brajamusti dan braja lamatan yang menggambarkan tangan Gatotkaca sangat tajam bagaikan guntuing.

Seperti halnya Antareja dan Irawan, Gatutkaca pun secara bobot-bibit-bebet, bukanlah sosok yang diidealkan untuk menjadi leluhur raja-raja Jawa. Oleh karena itu dalam proses pembentukan tipikal pancer ratu tanah Jawa, keikutsertaan Gatutkaca digugurkan dengan cara tidak mampu duduk di singgasana Astina.

d. Abimanyu.

Abimanyu adalah putra Arjuna dengan Dewi Wara Sembadra. Pada kisah sebelumnya telah ditandai bahwa Wara Sembadra adalah tempat penitisan babon ratu seperti halnya Dewi Utari. Fenomena demikian mengindikasikan bahwa putra Wara Sembadralah yang dipilih masyarakat Jawa untuk didudukkan sebagai pancer ratu tanah Jawa.

Abimanyu dalam tradisi Mahãbhãrata disebutkan sebagai inkarnasi Warcas, kebaikan sekaligus kemegahan putra Soma. Sebagai putra Dewi Wara Sembadra, Abimanyu adalah inkarnasi Soma.[10] Berdasarkan silsilah kepahlawanan dalam tradisi Mahãbhãrata, Warcas merupakan bagian dari Soma yang kemudian menjelma menjadi Abimanyu.[11] Dengan demikian jelas bahwa Abimanyu bukan saja sebagai bagian dari Soma, melainkan sekaligus titisan Soma.

Sebagai titisan Warcas dan Soma, Abimanyu memiliki ketampanan yang sempurna seperti yang ditunjukkan dalam kutipan berikut.

“Pira kunang lawas nira hana ngkãna, mãnak ta sira sang Subhadrã laki-laki paripurna sulaksana. Abhito manyuh. Abhitah, sira tan kêneng takut. Manyunãsaha, muwah kinahanan de ning galak. Tasmãd Abhimanyunamah. Nãhan matang yan pangaran Abhimanyu.

Krsnasya sadrçaç çauryê. Pada ta kaçuran ira lãwan Çri maharaja Krsna, mwang ring aniwãryãkrti, yan ing rupa sang Krsna juga tiniru nira.[12]

[Setelah beberapa lama di sana (Amarta), sang Subadra melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat sempurna. Abhito manyuh. Abhitah berartisangat pemberani. Manyunãsaha, serta memiliki watak mudah marah. Tasmãd Abhimanyunamah. Oleh karena itu ia diberi nama Abhimanyu.

Krsnasya sadrçaç çauryê. Keberaniannya seperti Prabu Kresna, dan tidak ada yang dapat menandingi. Memang sebenarnyalah Prabu Kresna yang ditiru.]

Aspek ketampaman dan kemegahan Soma telah ditunjukkan Abimanyu melalui wajahnya yang sangat sempurna. Sifatnya tidak pernah punya rasa takut. Segala yang ada dalam diri Prabu Kresna dimiliki Abimanyu. Oleh karena Prabu Kresna adalah penjelmaan Wisnu maka Abimanyupun memiliki aspek Wisnu.

Abimanyu adalah putra Arjuna. Secara spiritual, Abimanyu adalah bagian dari Arjuna itu sendiri.[13] Arjuna identik dengan Abimanyu. Semua yang dimiliki Arjuna, dimiliki pula oleh Abimanyu sebagaimana Abimanyu memiliki sifat-sifat Krisna juga dimiliki Arjuna. Arjuna bahkan identik dengan Kresna seperti yang ditunjukkan dalam kisah Arjuna dan Kresna membantu Sang Hyang Agni membakar hutan Kandawa. Keberhasilan sang Hyang Agni disebutkan karena bantuan Arjuna dan Kresna yang keduanya penjelmaan Narayana.[14] Pernyataan demikian dijumpai pula dalam tradisi pedalangan bahwa antara Kresna dan Arjuna bagaikan daun sirih bagian atas dan bawah; meskipun berbeda wujutnya tetapi rasanya sama. Mereka dua namun satu, sebagai pasangan yang tak terpisahkan karena keduanya adalah prototipe Nara-Narayana.[15]

Pasangan Arjuna-Kresna ditunjukkan dalam tradisi wayang melalui penyebutan bahwa penitisan Wisnu dibelah menjadi dua. Bagaikan bunga dan sarinya, bagaikan api: nyala dan panasnya, bagaikan daun sirih: lumah lan urepé. Prabu Kresna dipandang sebagai wadhag Batara Wisnu, sedangkan Arjuna adalah intisari Batara Wisnu. Keduanya bagaikan cincin dengan permatanya.

Abimanyu sebagai jiwa Arjuna merupakan identifikasi Soma sebagai jiwa dan sekaligus kekuatan Indra, dalam arti bahwa Abimanyu pun memiliki aspek Indra. Arjuna adalah putra sekaligus inkarnasi Indra.[16] Identifikasi Arjuna sebagai Indra ditunjukkan melalui sifat Arjuna bahwa ia adalah keagungannya adalah puncak dari aktifitas ksatria ideal, sebagai aktifitas raja dalam memelihara dan memenuhi kebutuhan dunia. Arjuna adalah penjelmaan ayahnya di dunia, yaitu Indra, sebagai konsep raja ideal.[17] Demikian halnya dalam lakon Karna Tanding, perang antara Arjuna dan Karna merupakan personifikasi pertentangan antara Indra dan Surya dalam tataran mite.[18]

Menurut tradisi Mahãbhãrata, Indra adalah putra kesayangan Aditi. Semula sifatnya seperti seorang brahmana. Ia sangat sakti dan memiliki berbagai bentuk senjata sekaligus mampu menguasai penggunaannya dengan sempurna.[19] Senjatanya yang paling ampuh adalah gandewa dan kilat. Kedua senjata tersebut sangat mengerikan, mampu menghancurkan alam semesta.[20] Dengan kesaktiannya, Iandra memberantas kejahatan dari sembilan puluh sembilan saudaranya. Sejak saat itulah Indra memperoleh kerajaan dewa, dan sejak itu pula Indra menjadi prajurit.[21] Kasus inilah rupa-rupanya yang terulang pada pertentangan Arjuna dengan Kurawa.

Kedudukan Indra dalam Weda disebutkan sebagai dewa prajurit tertinggi.[22] Hal ini berarti Indra adalah pemimpin para dewa sesuai gelarnya sebagai Surapati yang artinya raja para dewa. Kesempurnaan tipikal raja ideal dimiliki Indra. ketampanannya sempurna, kesaktiannya tanpa tanding, sebagai penghancur kejahatan. Berdasarkan keunggulan sifatnya, kemudioan ia dinobatkan sebagai penguasa alam semesta. Ia duduk di singgasana yang indah, memakai mahkota, memakai gelang merah, berjubah putih dan memakai perhiasan beraneka warna sebagai symbol kemegahannya.[23]

Aspek Indra dalam diri Abimanyu inilah tampaknya yang menjadikan ia mampu mendapatkan Wahyu Widayat. Dengan kapasitas Abimanyu, Indra, Wahyu Widayat, dan gajah Antisura jelaslah bahwa kesemuanya disatu padukan oleh masyarakat Jawa menjadi sebuah lakon wayang daslam rangka memformulasikan konsep raja idealnya dalam sebuah tokoh wayang dan kemudian didudukkan sebagai pancering ratu tanah Jawa.

Penitisan Wahyu Widayat kepada Abimanyu disebabkan di dalam dirinya telah bersemayam Wahyu Maningrat dan Wahyu Cakraningrat. Wahyu Maningrat merupakan transformasi dari aspek Soma sebagai “benih” yang ada di bumi, yaitu wiji ratu. Sebagai konsep raja ideal, Soma lahir kembali dalam wujud dasarnya yaitu mani, benih yang bercahaya. Dengan demikian Wahyu Maningrat sebagai konsep benih raja ini menujukkan identifikasi wahyu nubuwah dalam sistem ketatanegaraan Ngayogyakarta,[24] yaitu raja adalah wakil Tuhan sebagaimana soma sebagai aspek mite menanamkan benihnya sendiri ke dunia sebagai raja.

Wahyu Cakraningrat sebagai aspek Wisnu tampak pada makna dari nama Cakraningrat. Bagian penting dari kata cakraningrat adalah cakra yang artinya bentuk lingkaran, gerakan yang melingkar, menyelimuti, menguasai, bumi. Cakra dalam tradisi India Kuna dimaknakan sebagai titik pusat lingkaran yang dijadikan sumber konsep ritual atau magig-religious.[25] Simbol cakra digunakan sebagai lambang pengayom bagi raja ideal. Cakra identik dengan rastra yang artinya raja yang menjadi kepala prajurit, menguasai bumi dan berdaulat penuh. Oleh karena itulah cakra digunakan sebagai lambang spiritual seorang raja yang sifatnya universal.[26] Cakra merupakan identifikasi Dewa Wisnu sebagai pemelihara dunia. Pemahaman demikianlah tampaknya yang dimaksud wahyu wilayah dalam sistem ketatanegaraan Ngayogyakarta bahwa raja adalah penguasa bumi.[27]

Wahyu Widayat sebagai aspek rajawi Indra merupakan tipikal raja sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan dhandha. Pemahaman inlah yang dimaksudkan dengan wahyu hukumah yang artinya bahwa raja adalah sebagai sumber hukum.[28] Kasus-kasus yang ditemui dalam lakon Wahyu Widayat menunjukkan usaha masyarakat Jawa untuk menghubungkan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan aspek kerajawian Indra dan aspek ilmu pengetahua. Dalam rangka inilah tampaknya dimunculkannya tokoh Antareja, Irawan, dan Gatutkaca. Berkenaan dengan Gajah Antisura menunjukkan adanya dualisme identifikasi. Satu sisi Antisura merupakan identifikasi Airavãna, gajah kendaraan Indra; dan pada sisi lain ia sebagai identifikasi Ganesha, dewa ilmu pengetahuan. Munculnya unsur-unsur pendukung tersebut selain memperkuat kedudukan Abimanyu juga sekaligus mendukung kompleksnya permasalahan dalam lakon sebagai pendukung pertunjukan.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1. Struktur lakon Wahyu Widayat adalah “pola tiga linier” yang terwujud dalam jalur epik – ritual – mite. Artinya bahwa terjadinya proses pewahyuan (inkarnasi) dikendalikan oleh pola tersebut sehingga tokoh yang berhasil mendapatkan wahyu adalah Abimanyu yang berada dalam satu jalur epik – ritual – mite dengan Wahyu Widayat. Pola demikian akan tampak pada lakon-lakon wayon yang lain.

2. Lakon Wahyu Widayat merupakan transformasi aspek rajawi Dewa Indra. Wahyu Widayat dan gajah Antisura menyatu dalam rangka mendudukkan Abimanyu sebagai wiji pancering ratu tanah Jawa.

3. Proses pembentukan tipikal pancering ratu tanah Jawa dalam lakon Wahyu Widayat dapat digambarkan menjadi diagram berikut.










Rectangular Callout: Gajah Antisura
Rectangular Callout: Wahyu Widayat







Rectangular Callout: Aspek rajawi Indra




Gambar 1. Diagram Terbentuknya Pancering Ratu Tanah Jawa.

4. Kapasitas Abimanyu diperlukan dalam rangka melegitimasi kekuasaan raja-raja Jawa bahwa kedudukan raja telah ditentukan atas dasar kodrat dan keturunan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penciptaan Lakon Wahyu Widayat ini merupakan bagian dari konsep kekuasaan Jawa dalam rangka melegitimasi kedudukan raja dengan menggunakan struktur pola tiga linier (epik – ritual – mite).

KEPUSTAKAAN

Aris Wahyudi, “Lakon Wahyu Cakraningrat: Aspek Wisnu Pembentuk Pancering Ratu Tanah Jawa”, dalam SENI, Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni,edisi IX/01- Maret 2002.

Bhattacharji, Sukumari, The Indian Theogony, Cambridge: At The University Press, 1970.

Gonda, Jan, Ancient Indian Kingship From The Relilious Point of View, Leiden: E.J. Brill, 1969.

Hopkins, E.W., Epic Mythology, Delhi-Varanasi-Padna-Madras: Motilal Banarsidass, 1986.

Katz, Ruth Cecily, Arjuna In The Mahãbhãrata: Where Krishna is, There is Victory, Columbia: University of South Carolina Press, 1989.

Minkowski, C.Z., “Janamejaya’s Sattra and Ritual Structure” Journal of The American Oriental Society, volume 109, Number 3, Jully – September 1989.

Siman Widyatmanta, Adiparwa Jilid II, Jogjakarta: U.P. “Spring”, 1968.

Soedarsono, R.M., Wayang Wong: Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, edisi 2, 1990.

Strauss, Claude Lévi, Structural Anthropology, translated from the French by Claire Jacobson and Brooke Grundfest Schoepf, Garden City, New York: Anchor Books Doubleday & Company, Inc., 1967.



[1] Aris Wahyudi, “Lakon Wahyu Cakraningrat: Aspek Wisnu Pembentuk Pancering Ratu Tanah Jawa”, dalam SENI, Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni,edisi IX/01- Maret 2002, p. 89-90.

[2] Claude Lévi-Strauss, Structural Anthropology, translated from the French by Claire Jacobson and Brooke Grundfest Schoepf (Garden City, New York:: Anchor Books Doubleday & Company, Inc., 1967), 206.

[3] Jan Gonda, Ancient Indian Kingship From The Relilious Point of View (Leiden: E.J. Brill, 1969), 19.

[4] Soedarsono, Wayang Wong: Drama Tari Ritual Kenegaraan di Keraton Yogyakarta (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, edisi 2, 1990), 123.

[5] Gonda (1969), 126.

[6] E.W. Hopkins, Epic Mythology (Delhi-Varanasi-Padna-Madras: Motilal Banarsidass, 1986), 23 – 24.

[7] Hopkins (1986), 126.

[8] Hopkins (1986), 38.

[9] Hopkins (1986),. 39.

[10] Alf Hiltebeitel, The Ritual of Battle; Krishna in The Mahabharata (Albany: State University of New York Press, 1990), 337.

[11] Hopkins (1986), 91.

[12] Siman Widyatmanta, Adiparwa Jilid II ( Jogjakarta: U.P. Spring, 1968), 111.

[13] Hiltebeitel (1990), 337.

[14] Hiltebeitel (1990), 117.

[15] Ruth Cecily Katz, Arjuna In The Mahãbhãrata: Where Krishna is, There is Victory, (Columbia: University of South Carolina Press, 1989), 218.

[16] Periksa Siman Widyatmanta (1968), 89.

[17] Katz (1989), 31.

[18] Hiltebeitel (1990), 38.

[19] Hopkins (1986), 122.

[20] Katz (1989), 32.

[21] Hopkins (1986), 122..

[22] Sukumari Bhattacharji, The Indian Theogony (Cambridge: At The University Press, 1970), 258.

[23] Hopkins (1986), 123.

[24] Soedarsono (1997), 123.

[25] Gonda (1969), 124.

[26] Gonda (1969), 125.

[27] Soedarsono (1997), 123.

[28] Soedarsono (1997), 123..

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda