Rabu, 24 Juni 2009

ANALISIS SRIKANDI: ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN


Oleh: Aris Wahyudi

Srikandi adalah salah satu tokoh dalam pewayangan yang memiliki tempat khusus bagi masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan. Putri raja Pancala, Prabu Drupada ini adalah istri Arjuna, salah satu keluarga Pandawa yang sangat terkenal, ksatria yang sangat sakti. Ia memiliki kekhususan karena SArikandi merupakan satu-satunya perempuan yang terlibat langsung dalam Baratayuda. Ketika para Pandawa tidak mampu menghentikan keperkasaan senapati Bisma, maka Sri Kresna menginstruksikan agar Srikandilah yang menghadapi Resi Bisma yang sangat sakti itu, dan akhirnya berhasil.

Kisah demikianlah yang menyebabkan sampai sekarang pun kita masih sering mendengar atau membaca istilah “Srikandi Indonesia”, untuk mengidentifikasikan wanita-wanita Indonesia yang berprestasi. Pandangan atas Srikandi tersebut jelas merupakan hasil adopsi dari tradisi pedalangan, sebagaimana dikisahkan bahwa Srikandi, sang pahlawan wanita adalah istri Arjuna. Jiwa kepahlawanannya ditunjukkan ketika berhasil menundukkan keperkasaan Resi Bisma dalam perang Baratayuda. Namun analaogi ini telah mengalami perkembangan; tidak hanya pahlawan wanita saja yang mendapat predikan Srikandi Indonesia, tetapi telah meluas di segala bidang; bahkan dapat dikatakan sebua wanita yang berprestasi berhak menyandang gelar “Srikandi Indonesia

Fenomena demikian sangat menarik. Siapakah Srikandi? Bagaimana peranannya dalam Baratayuda? Benarkah ia kesaktiannya mengungguli Bisma? Di sini akan dipaparkan beberapa teks yang memuat persoalan di atas.

Dalam sebuah teks disebutkan tentang kisah Pandawa dalam melawan Resi Bisma yang sangat sakti, dan akhirnya Srikandi yang memiliki peran besar.

“Tatkãla Nŗpa Kŗşņa tan tulus aňakra ri ŗşiwara Jãhnawĩsuta,

ngkã munggah sira kãlih ing ratha têhêr tumihangakên ikang Çarottama, tan wyarthãn magawe pupug ni guna sang ŗşi lêsu mari kãtarojwala, têkwan puh lumihat ri sang wara Çikaņdi karaņa ni gupe nirãlaga.”

[Ketika Raja Kresna tidak sungguh-sungguh (berpura-pura) akan membunuh Resi Putra Gangga (nama lain Bisma),

ketika itu keduanya naik di kereta dan kemudian memperlihatkan senjata saktinya (Cakra),

Tidaklah akan sia-sia usaha melumpuhkan kesaktian sang resi, lemah tak berdaya terpancar dari raut mukanya,

Sesungguhnya (akan) hancur (hari Bisma) (bila) melihat kepada Wara Srikandi, dan menjadikan perlawanannya (tidak melawan)]

Ini adalah salah satu tembang gedhe petikan Serat Bharatayuda Jawa Kuna yang dikutip S. Padmosoekotjo dalam buku Suluk Pedalangan, terbitan Cutra Jaya Murti, Surabaya, tanpa tahun. Jabaran mengenai tembang ini: “ketika Sri Kresna melihat keraguan Arjuna saat melawan Resi Bisma, maka ia berpura-pura marah dan mengeluarkan senjata cakra untuk membunuh Bisma. Sri Kresna segela melompat ke kereta Bisma dan menodongkan senjatanya.Usaha Sri Kresna itu sebenarnya tidaklah sia-sia karena melihat segala kelemahan Resi Bisma yang terpancar pada raut mukanya, sesungguhnya keperkasaannya akan hancur (gugur) apabila berhadapan dengan Srikandi.” Dari isyarat inilah kemudian Sri Kresna menginstruksikan pada keesokan harinya untuk mengangkat Srikandi sebagai senapati Pandawa dan melawan Bisma; dan siasat ini berhasil hingga Bisma roboh penuh dengan anak panah di sekujur tubuhnya. di sini jelas bahwa yang memerintahkan Srikandi melawan Bisma adalah Sri Kresna.

Berbeda halnya dengan Mahabarata karya P. Lal, terbitan Pustaka Jaya tahun 1981. di halaman 283. Dikisahkan bahwa ketika Para Pandawa kehabisan akal untuk dapat mengalahkan Bhisma, Kresna menyarankan untuk menemui Bhisma dan minta petunjukknya, maka berangkatlah para Pandawa ke perkemahan Bhisma. Jawab Bhisma sebagai berikut:

“…. Di pihakmu turut berperang Srikandi. Srikandi dahulu seorang perempuan – Amba – dalam penitisannya terdahulu. Kisah kelahirannya sudah kalian ketahui. Biarkan Arjuna menempatkan Srikandi di depannya pada waktu ia menyerangku – aku tidak akan menggunakan senjata-senjataku melawan seorang perempuan.”

“Srikandi dahulu adalah seorang perempuan, sebagai titisan Amba” merupakan indikator bahwa telah terjadi perubahan kelamin dalam diri Srikandi, artinya pada saat Baratayuda, Srikandi adalah seorang laki-laki, dan dia bertempur sebagaimana layaknya laki-laki sejati. Namun sayangnya kisah tentang pergantian kelamin Srikandi menjadi laki-laki ini tidak dikisahkan.

Demikian pula dengan Nyoman S. Pendit dalam “Mahabharata: Sebuah Perang Dahsjat Dimedan Kuruksetra”, terbitan Bhatara, Jakarta, 1970. dalam narasinya diceritakan sebagai berikut.

“…, tetapi panah kendali Sikhandin-lah jang pertama menundjam dada Kakek tua itu. Sesaat lamanya mata Bhishma bersinar-sinar bagaikan permata intan kena tjahaja gemilang memandang kearah Sikhandin. Ini suatu pertanda bahwa ia dalam keadaan amarah. Tetapi mahaguru jang sakti dan berdjiwa luhur itu menahan hatinja, sebab ia ingat akan sumpahnja tidak akan menghantam kembali Sikhandin jang dilahirkan sebagai perempuan.”

Sikhandin yang dimaksud Nyoman S. Pendit di sini adalah Srikandi yang kita kenal dalam dunia pewayangan. Ia dilahirkan sebagai perempuan mengandung dua pengertian. Pertama, memang sebenarnya Srikandi di sini sebagai perempuan; kedua Srikandi ketika dilahirkan adalah perempuan, tetapi sekarang telah menjadi laki-laki. Namun melihat konteksnya, Bhisma menjadi sangat marah ketika terkena panah Srikandi, sangat dimungkinkan bahwa Srikandi pada saat berhadapan dengan Bhisma ini berdiri sebagai seorang laki-laki. Namun ingatan tentang keadaan Srikandi ketika dilahirkan sebagai anak perempuan, maka ingat akan sumpahnya dan mengurungkan amarahnya. Keadaan ini berakibat fatal sehingga Bisma roboh dalam pertempuran dengan anak panah memenuhi seluruh tubuhnya.

Lebih jelas lagi adalah penggambaran R.A Kosasih dalam komiknya Seri Bharatayuda serial “Bisma Dewabrata 2”. di halaman 60 tampak bahwa Bisma sendirilah yang memberi tahu tentang kelemahannya, yakni harus melawan Srikandi. Dalam Serial “Srikandi Tandingan 2” halaman 41, fisik Srikandi sebagai laki-laki tampak jelas. Demikian pula di halaman 46, ketika Srikandi menghujani anak panah ke tubuh Bisma. Kejelasan ini karena didukung dengan bahasa visual sehingga fisik Srikandi dapat diidentifikasi dengan jelas.

Berdasarkan teks-teks di atas menjadikan jelas tentang bagaimana kemenangan Srikandi atas Bhisma. Bhisma gugur bukan karena kesaktian Srikandi, tetapi semata-mata Bhisma yang tidak mau melawan karena telah terikat oleh sumpahnya. Hal demikian dijelaskan pula Oleh Nyoman S. Pendit dalam perintah Duryudana kepada Dursasana:

“Sekarang aku baru jakin bahwa Bhishma bertempur dipihak kita dengan sepenuh hatinja. Hanja sadja ia tidak bisa berhadapan dengan Sikhandin, seperti sumpahnja semula. Dari sebab itu, usahakanlah agar ia djangan berhadap-hadapan dengan Sikhandin. Ingatlah, seekor andjingpun dapat membunuh singa jang tidak mau melawan.

Dalam teks ini ditunjukkan kualitas Srikandi dan Bisma dalam sebuah analogi. Kekuatan Bhisma dianalogkan bagaikan singa dan Srikandi hanya bagaikan anjing. Perbandingan Singa dan anjing ini sangatlah jauh. Teks berikutnya dijelaskan: “Sikhandin terus menghantam Bhishma dengan panah-kendalinja bertubi-tubi, tanpa menjadarinja bahwa Kakek tua itu tidak membalas perlawanannja sesuai dengan sumpahnja” dan berikutnya dinformasikan oleh Bisma sendiri kepada Dursasana: “Semua anak panah jang menembusi kulitnja adalah dari Partha, dan bukan dari Sikhandin, sebab sendjata-sendjata tersebut mulai membakar seluruh tubuhnja”.

Atas dasar teks-teks tersebut jelas bahwa peranan Srikandi dalam pertempuran melawan Bisma hanyalah sebagai alat untuk melemahkan semangat Bisma. Kalau istilah sekarang adalah sebagai pancingan, atau wanita yang ditugaskan sebagai mata-mata untuk melemahkan atau mencari kelemahan musuh. Dengan lengahnya Bisma inilah, Arjuna mempunyai kesempatan untuk meyerang Bisma tanpa dibalasnya. Dalam tradisi pedalangan pun kapasitas Srikandi yang demikian juga jelas ditunjukkan. Ketika berhadapan dengan Srikandi (atas perintah Kresna), yang tampak oleh Bisma bukan Srikandi, melainkan Dewi Amba. Bisma tersenyum, merasa sudah saatnya dijemput pulang. Seluruh panah yang memenuhi tubuhnya tidak dirasakannya sampai ia roboh di medan pertempuran.

Demikianlah sekelumit tentang realita Srikandi dari beberata sumber, semoga memberikan tambahan pengetahuan tentang wayang dan ada manfaatnya.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda